Kerjasama Bisnis Gesyal- Lingkar Sosial Berbasis Pemberdayaan Penyandang Disabilitas

Lingkar Sosial Indonesia (Linksos) menjalin kerjasama bisnis dengan Gesyal, sebuah UKM berbasis kewirausahaan sosial dengan produk zero waste gelang, kalung gamelan dan syal di Malang (kata Gesyal sendiri berasal kependekan dari kata gelang dan syal). Kerjasama ini termuat dalam nota kesepakatan atau MoU pada hari Senin, 22 September 2019 di Rumah MCF kota Malang. MoU ditandatangani oleh Founder Gesyal, Nancy Valency dan Pembina Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas. Yang menarik dari kesepakatan kerjasama ini adalah kedua belah pihak sepakat akan branding logo bersama “Gesyal cooperated with Lingkar Sosial.” Kesepakatan bisnis ini juga yang pertama bagi Linksos yang sejak tahun 2015 bergerak membangun jaringan bisnis untuk masyarakat penyandang disabilitas.

Mengenal Lingkar Sosial dan kegiatannya
Lingkar Sosial Indonesia merupakan organisasi yang fokus pada isu-isu disabilitas. Berdiri pada tahun 2014, berkedudukan di Malang untuk wilayah kerja di seluruh Indonesia. Organisasi sosial ini memiliki 3 kegiatan utama yaitu advokasi kebijakan, advokasi ekonomi dan disability awarresness (penyadaran masyarakat tentang disabilitas).

Advokasi Kebijakan, Lingkar Sosial Indonesia memastikan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas melalui audiensi-audiensi dengan Pemerintah setempat. Hal ini bertujuan untuk mendorong implementasi perundangan tetang penyandang disabilitas maupun mempengaruhi adanya kebijakan baru. Dalam menjalankan fungsi ini, Linksos bekerjasama dengan Forum Malang inklusi (FOMI). FOMI merupakan forum lintas organisasi sosial, penyandang disabilitas dan kemanusiaan yang sepakat mendorong terciptanya Malang Raya yang inklusif. Forum tersebut berdiri pada tahun 2016 melalui gerakan sosial Menuju Malang Raya Ramah Disabilitas yang diinisiasi oleh Lingkar Sosial Indonesia.

Advokasi Ekonomi, Lingkar Sosial Indonesia membangun kelompok kerja wirausaha yang beranggotakan para penyandang disabilitas pada tahun 2015. Prinsip utama kelompok kerja ini (pokja) adalah sharing job, sharing jaringan dan sharing modal. Latar belakang pendirian Pokja adalah sulitnya lapangan kerja bagi penyandang disabilitas serta kasus-kasus kerja tak layak. Sedangkan realitasnya, data Lingkar Sosial menunjukkan 95 persen penyandang disabilitas adalah lulusan pelatihan dinsos, alumni pelatihan BLK dan jebolan panti rehabilitasi, yang tentu saja para alumni tersebut telah berbekal keterampilan kerja.

Disability Awarreness atau penyadaran masyarakat tentang disabilitas, Lingkar Sosial Indonesia melakukan sosialisasi berkelanjutan. Bentuknya adalah melakukan kampanye di media sosial, berjejaring dengan media massa, serta membuka akses kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi.

Mengenal Lingkar Sosial dan jaringan bisnis penyandang disabilitas
Kelompok Kerja Wirausaha Difabel atau di kalangan difabel di Malang familier disebut Pokja, merupakan sekelompok difabel dan orangtua dari anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sepakat mengembangkan usaha secara berjejaring.

Pokja mulai dirintis Lingkar Sosial pada tahun 2015 di kecamatan Lawang dengan prinsip dasar sharing job, sharing jaringan dan sharing modal. Latar belakang adanya pokja ini adalah respon atas sulitnya difabel memperoleh pekerjaan yang layak, sementara di sisi lainnya, Lingkar Sosial mencatat 95 persen difabel dalam jaringannya adalah lulusan BLK, alumni pelatihan Dinsos dan jebolan panti rehabilitasi.

Saat ini Lingkar Sosial tengah mengembangkan pokja- pokja di seluruh kecamatan-kecamatan di Malang Raya. Saat ini berkembang 12 pokja di kabupaten Malang, 3 pokja di kota Malang dan 1 pokja di kota Batu.

Menginisisasi kebijakan baru pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas
Terdapat aturan unik yang berlaku dalam pokja Lingkar Sosial Indonesia, yaitu anggota tidak boleh mengakses bantuan sosial (bansos) yang bertema charity/ amal dan belas kasihan. Menurut Lingkar Sosial dari berbagai sebab sulitnya penyandang disabilitas memperoleh pekerjaan yang layak, selain masih adanya berbagai aturan diskriminatif terhadap difabel, juga mindset penyandang disabilitas yang terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan stigmatif. Misalnya difabel dianggap tidak sehat lahir dan batin serta menjadi beban lingkungan sehingga layak menjadi obyek bansos.

Menurut Lingkar Sosial program-program bansos yang tidak tepat sasaran berbuah negatif menjadi kebiasaan masyarakat yang selalu berharap adanya bantuan. Fakta ini tak hanya terjadi pada kelompok difabel melainkan kelompok-kelompok non difabel, misalnya kaum dhuafa.

Pokja hadir bukan hanya untuk mengatasi masalah pengangguran kelompok difabel, namun juga bekerja untuk membangun mindset difabel tentang potensi diri serta paradigma masyarakat bahwa bagi difabel persoalannya bukan mampu atau tidak mampu, melainkan memerlukan kesempatan yang sama di berbagai bidang. Pokja juga ingin menunjukkan bahwa tanpa bansospun masyarakat mampu berdaya. Sistem alternatif yang dilakukan Lingkar Sosial harapannya akan menginisasi kebijakan baru pemerintah yaitu adanya pemberdayaan berbasis sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Lingkar Sosial mendorong kerjasama bisnis berkelanjutan
Tantangan riil yang dihadapi Lingkar Sosial Indonesia terkait aturan yang diskriminatif dan stigmatif adalah sulitnya akses permodalan bagi usaha penyandang disabilitas. Faktor utamanya adalah tidak adanya jaminan utang yang dianggap layak lantaran kebanyakan penyandang disabilitas berasal dari kalangan masyarakat pra sejahtera. Solusinya adalah Lingkar Sosial mendorong adanya kerjasama bisnis.

Melalui kerjasama tersebut, penyandang disabilitas yang ingin melalukan wirausaha tak harus memiliki modal uang, melainkan setidaknya memiliki keterampilan kerja. Kerjasama bisnis yang pernah dilakukan misalnya pemenuhan kebutuhan seragam perusahaan-perusahaan dan jual beli kriya (kerajinan tangan) dengan sesama organisasi sosial. Selama ini kerjasama-kerjasama tersebut bersifat sementara atau berlaku per transaksi. Namun terkait kerjasama Lingkar Sosial dengan Gesyal, adalah pertama kalinya bersifat berkelanjutan serta termuat dalam MoU.

Lingkar Sosial optimis menyambut kerjasama ini atas manfaat yang diperoleh kedua belah pihak:
1. Meningkatkan pendapatan penyandang disabilitas.
2. Mengurangi angka pengangguran masyarakat penyandang disabilitas. Saat ini, setidaknya 5 penyandang disabilitas telah bekerja dalam proyek kerjasama tersebut.
3. Meningkatkan omzet perusahaan Gesyal dan organisasi Lingkar Sosial sekaligus dampak sosial atas kegiatan social enterpreneurship (kewirausahaan sosial) yang dilakukan.
4. Branding logo bersama “Gesyal cooporated with Lingkar Sosial akan berdampak pada pengurangan stigma. Penyandang disabilitas dalam proyek kerjasama ini, melalui organisasi Lingkar Sosial Indonesia berkesempatan menjadi subyek bisnis yang setara dengan perusahaan Gesyal.

Informasi lebih lanjut
Pers rilis ini dibuat oleh Lingkar Sosial Indonesia, pada hari Selasa 24 September 2019, untuk dipublikasi di seluruh jaringan media-media. Informasi lebih lanjut kontak:
1. Pembina Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas (whatsapp: 085764639993)
2. Founder Gesyal, Nancy Valency (whatsapp: 082139754425)

WhatsApp chat