MAKALAH RELAWAN PEDULI DISABILITAS KAB. TANJUNG JABUNG TIMUR

Oleh: KASMA,  SKM*

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karna dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidanya-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Relawan Peduli Disabilitas”dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya,

Dan juga kami berterima kasih banyak kepada Bapak Hendriyanto, SiP,M.Kes selaku pelaksana tugas Dinas kesehatan Kab. Tanjung Jabung Timur sekaligus sekretaris PMI kab. Tanjung jabung Timur, Kepala BAZNAS Kab. Tanjab Timur beserta staf yg selalu mensuport baik dana maupun tenaga dan Ibu Ida Royani, Amkeb selaku Kepala Puskesmas Ma. Sabak Timur, dan Bapak Amri Yasdi, SKM selaku Kasubag TU Puskesmas Ma. Sabak Timur serta seluruh Staf Puskesmas Ma. Sabak Timur, Relawan PMI Kab. Tanjab Timur maupun Relawan Baznas yg sudah meluangkan waktunya dan tenaga untuk kegiatan sosial ini.

Semoga makalah sederhana ini dapat menginspirasi siapapun yang membacanya, sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

1.1 Latar Belakang

Berawal dari keikut sertaan saya Pelatihan Kusta yang diutus oleh Dinas Kesehatan Kab. Tanjung Jabung Timur mewakili Puskesmas Rawat Inap Ma. Sabak Timur Pada Tahun 2014, selama 1 minggu saya mengikuti Pelatihan Kusta yang awam buat saya, Penyakit Kusta tersebut menyerang syaraf tepi dan dapat menyebabkan kecacatan apabila penanganan penyakit dan reaksi yang disebabkan oleh kuman kusta tidak dianalisa dengan baik. Setelah selesai banyak ilmu yang saya dapatkan dan menjadi tugas buat saya utuk melakukan pendataan ulang dan mengetahui dengan pasti penyebab penularan penyakit kusta tersebut.

Pada Tahun 2015 awal dr. Sari Sudaryono sebagai Dokter Puskesmas Rawat Inap Ma. Sabak Timur yang menjadi tempat saya untuk berkonsultasi masalah penyakit kusta terus mensuport saya dalam hal penemuan dini kasus kusta baru, setelah proses pemetaan wilayah kasus kusta yang banyak di dominasi di Desa Siau Dalam Kec. Ma .Sabak Timur dan di ikuti Desa Ma. Sabak Ulu dalam hal penularan penyakit kusta tersebut. Kontak serumah penderita kusta kita lakukan untuk mengskrining apakah sudah terjadi penularan setempat yang terjadi akibat kontak erat penderita dan keluarganya.

Pada Tahun itu pula di temukan 3 penderita kasus baru yang terjaring dalam kontak serumah penderita kusta yang kita lakukan 1 diantaranya dalam keadaan cacat tingkat 2(Pemendekatan kaki dan tangan), kecatatan tersebut membuat sebagian penderita merasa dikucilkan dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Jauhnya jarak tempuh dari satu rumah penderita ke penderita yang lain membuat saya kesulitas dalam melakukan pemantauan kecatatan syaraf dan reaksi yang timbul dari penyakit tersebut.

Dibulan Maret 2015 saya berinisiatif untuk membentuk satu Forum Komunikasi penderita kusta yang diberinama “KELOMPOK PERAWATAN DIRI KUSTA SAMUDERA” yang beranggotakan 21 penderita dan mantan penderita kusta.

Kegiatan ini di dukung penuh oleh Ibu Ida Royani (Kapus) dan Bpk Amri Yadi (Kasubag TU) dimana saya bisa mengakses pembiayaan baik transportasi penderita ke lokasi pertemuan yaitu Aula Puskesmas Ma. Sabak Timur dan ketersediaan alat pendukung perawatan Diri (Baskom, Sendal, Batu apung, Kaca Mata , Handuk Kecil, Minyak Zaitun) yang masing-masing penderita mendapatkan satu paket alat tersebut serta makan minum pada saat pelaksanaan kegiatan.

Di Tahun itu juga saya di berikan kesempatan oleh Puskesmas untuk ikut serta dalam Musrembang Kecamatan yang mana dimomen tersebut banyak sekali pemangku kebijakan dan tibalah giliran Puskesmas untuk mengutarakan permasalahannya, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengusulkan “Bantuan warung sembako”yang di peruntukan buat penderita kusta yang mengalami kecatatan dan yang sudah dinyatakan sembuh oleh Dokter Puskesmas, Warung sembako ini diharapkan dapat mengurangi psikologi penderita dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dan Alhamdulillah Dinsosnakertrans Kab. Tanjung Jabung Timur yang pada waktu itu dipimpim oleh Bapak Asman Daidi beliau sangat merespon dan mengharapkan pengajuan data penderita dengan tingkat kecacatan dan bantuan yang diharapkan.

Kurang lebih 3 bulan setelah pengajuan Proposal “BANTUAN USAHA EKONOMI PRODUKTIF WARUNG SEMBAKO” yang alhamdulilah puji syukur kepada Allah SWT dari 21 penderita 11 orang yang mendapat bantuan dengan nominal barang dagangan sebesar 5 juta Rupiah/orang.

Didalam perjalanan saya berkarir sebagai perawat dan pelaksana program Puskesmas saya juga banyak menemui beberapa anak dengan kecacatan baik karena bawaan dari lahir maupun penyebab kesehatan lainnya, miris rasanya dari beberapa orang tua yang saya tanyakan penyebab anak mereka menjadi cacat karna keterlambatan mereka membawa anaknya di akses pelayanan kesehatan yang disebabkan ketidak pahaman mereka tentang prosedur yang mereka jalani atau bahkan mereka harus pulang dengan pengobatan yang masih mereka jalani dikarnakan pembiayaan transportasi dan makan minum keluarga pasien yang menemani sudah tidak lagi ada.

Pada Tahun 2017 tepatnya dibulan Maret saya pindah Ke Dinas Kesehatan Kab. Tanjung Jabung Timur dan pada waktu itu saya di interviu oleh Bpk Hendriyanto, SiP,M.Kes Selaku Sekdis Dinkes Tanjab Timur tentang misi dan visi saya pindah ke Dinkes, ada beban berat yang harus terus saya perjuangkan dan ada perasaan senang yang bercampuraduk karna di Dinkes merupakan akses dalam pemberian jaminan kesehatan daerah yang bisa di peruntukan untuk anan-anak cacat dalam akses pengobatan.

Visi saya mengurangi kecacatan lebih lanjut pada anak2 disabilitas, dan mengembalikan fungsi social anak2 disabilitas. Misi saya yang belum terwujud saya pingin bisa mengakses anak-anak cacat(disabilitas) dalam hal pengobatan dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Sehingga pada akhirnya saya di perkenan kan untuk bergabung bersama saudara-saudara saya yang mempunyai misi kemanusian dalam Forum PMI Kab. Tanjung Jabung Timur yang Alhamdulillah sampai saat ini kita masih tetap solih dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Setelah melalui rapat Relawan PMI dan atas izin Bapak Sekda yang juga sebagai Ketua PMI Kab. Tanjung Jabung Timur maka kita sepakati pembentukan FGD (Forum Grup Diskusi) yang dilaksanakan di Gedung Nasional Kec. Ma. Sabak timur pada Bulan Juli 2017 yang di hadiri perwakilan Kecamatan Ma. Sabak Timur, Kelurahan Ilir, dan ulu Desa Lambur 1,2 dan Desa Kota Raja, BAZNAS, DINSOS, PKK serta seluruh penyandang cacat (disabilitas).

Forum ini dihadiri oleh ibu Bupati Kab. Tanjab Timur beliau menangis melihat banyak masyarakatnya selama ini tidak terakses pengobatannya. Setelah panjang lebar diskusi ini berjalan akhirnya BAZNAS siap untuk membantu dalam melayani baik akses pendampingan pengobatan dan rehabilitasi (Pengadaan Kaki Palsu).

Dengan Izin Allah SWT melalui BAZNAS, PMI kab. Tanjab Timur dapat melakukan aksi-aksi sosialnya dengan mengakses 8 orang anak dengan kecacatan cukup tinggi (Cacat Fisik dan Mental) dan 2 orang kaki palsu serta 1 orang rehabilitas pasca kebakaran Tak Boat. Alhamdulilah 8 orang kita konsultasikan ke Rumah Sakit Nurdin Hamzah dilanjutkan di Rumah sakit Umum Raden Mattaher Jambi setra dilakukan visiotherapi dan Ct Scan dan 2 orang kita akses pembuatan kaki palsu di Rumah Sakit Abdul Rifai Kundur Palembang dan 1 orang lagi rehabilitas kulit tangan pasca korban kebakaran Tak Boat di Rumah Sakit M. Housien Palembang dan semua sudah kita akses di Tahun 2017.

Kecacatan (Disabilitas) bagi sebagian orang merupakan suatu masalah yang berat serta dapat menghambat cita-cita dan aktivitas. Permasalahan yang dihadapi penyandang cacat bukan hanya masalah psikologis seperti rendah diri, merasa tidak mampu dan tidak berdaya, menutup diri untuk tidak bergaul di tengah kehidupan masyarakat. Dan kesamaan kesempatan untuk penyandang cacat dalam layanan-layanan pendidikan, rehabilitasi , keterampilan yang sifatnya umum sebagai dasar untuk mengantarkan para penyandang cacat untuk dapat mandiri dan professional.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka perlu dikembangkan dan ditingkatkan kesamaan kesempatan melalui penyediaan aksesibilitas, yang dalam pelaksnaannya disertai dengan upaya peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan penyandang cacat yang merupakan unsur penting dalam rangka pemberdayaan penyandang cacat.

Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI Pada Tahun 2017 kami relawan PMI mengadakan perayaan kemerdekaan bersama penyandang cacat (Disabilitas) yang diadakan di Taman Selaras Pinang Masa, kegiatan ini juga menumbuhkan kembali hak penyandang cacat (Disabilitas) dalam merasakan kemeriaan perayaan kemerdekaan dengan mengikuti beberapa perlombaan: makan kerupuk, masukan paku dalam botol, memindahkan bola yang sewarna di dalam ember.

Kegiatan ini di dukung beberapa komunitas pemuda: Pemuda Karang Taruna Kel. Muara Sabak Ulu, Remaja Masjid Rabbani, KNPI, Pemuda Ansor, PMR Se Kab. Tanjung Jabung Timur.

Kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan penuh oleh Bapak Hendriyanto,SiP,M.Kes dan Ketua BAZNAS Kab. Tanjung Jabung Timur.

1.3 Tujuan

a. Tujuan Umum
Diharapkan program-program yang diselenggarakan oleh PMI, BAZNAS dan Dinkes Kab. Tanjab Timur dapat menjadi akses informasi masyarakat terhadap pelayanan pengobatan maupun untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial penyandang disabilitas, keluarga dan masyarakat agar tetap berfungsi optimal.

b. Tujuan Khusus
Penyandang disabilitas mampu memahami dan menerima kondisi diri dan memiliki motivasi untuk terus berkembang dengan keterbatasan yang ada.

Keikutsertaan penyandang cacat (Disabilitas) dalam Jaminan Kesehatan Nasional (KIS) yang di biayai oleh Pemerintah Kab. Tanjung Jabung Timur dalam akses pelayanan kesehatan yang juga di pengajuannya di fasilitasi Oleh PMI Kab. Tanjung Jabung Timur.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Disabilitas
Disabilitas menurut WHO adalah suatu ketidak mampuan melaksanakan suatu aktivitas/kegiatan tertentu sebagaimana layaknya orang normal, yang disebabkan oleh kondisi kehilangan atau ketidak mampuan kelainan struktur atau fungsi anatomis.

2.2 Ciri-ciri Disabilitas
1.Penyandang cacat Fisik yaitu individu yang mengalami kerusakan fungsi organ tubuh dan kehilangan organ sehingga mengakibatkan gangguan fungsi tubuh, misalnya gangguan penglihatan, pendengaran, dan gerak.

2. Penyandang cacat mental yaitu individu yang mengalami kelainan mental dan atau tingkah laku akibat bawaan atau penyakit.

3. Penyandang cacat fisik dan mental (ganda) yaitu individu yang mengalami kelainan fisik dan mental dan sekaligus atau cacat ganda seperti gangguan pada fungsi tubuh ,penglihatan, pendengaran dan kemampuan berbicara sehingga yang bersangkutan tidak mampu melakukan kegiatan sehari-hari.

2.3 Jenis-Jenis Disabilitas
1. Disabilitas Mental
a. Mental Tinggi sering dikenal dengan orang berbakat intelektual.
b. Mental Rendah atau kapasitas intelektual/IQ dibawah rata-rata dapat dibagi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar dan anak berkebutuhan khusus.

2. Disabilitas Fisik
a. Kelainan tubuh (Tuna Daksa) adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro muscular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan.
b. Kelainan indera penglihatan (Tuna Netra) adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan(buta total maupun Low vison).
c.Kelainan pendengaran (Tuna Rungu) adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permane maupun tidak permanen. Karena hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara.
d. Kelainan bicara (TunawicaraI adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak mengerti bahkan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

3. Tunaganda (Disabilita ganda) penderita cacat lebih dari satu kecacatan (fisik dan mental).

2.4 Penyebab Disabilitas

1. Disabilitas mental
*Kelainan genetic dan kromosom salah satu penyebab utama adalah genetic yang disebut down syndrome pada dasarnya adalah dimana suatu kondisi dimana seseorang memiliki 47 kromosom yang bertentangan dengan 46 kromosom manusia normal. Kromosom ekstra ini mengganggu fungsi otak, sehingga sering menimbulkan keterbelakangan.

*Kekurangan Gizi adalah salah satu penyebab terbesar dari beberapa kondisi kesehatan. Kekurangan gizi selama kehamilan dapat lebih merugikan bagi anak yang belum dilahirkan dari pada untuk ibu.

*Kondisi lingkunagn dan zat beracun, lingkungan pada umumnya mengacu kepada kemiskinan diketahui menjadi penyebab yang sering terjadi karna kondisi miskin lingkungan yang tidak cocok untuk pertumbuhan mentalnya.

2. Disabilitas Fisik

*Tuna Netra
– Akibat penyakit campak yang menyerang ibu sedang hamil 1-3 bulan besar kemungkina lahir dalam keadaan tuna netra.
– Akibat penyakit Syphilis, bayi dalam kandungan kemungkinan terlahir dengan keadaan tuna netra.
– Akibat kecelakaan, keracunan obat2an /zat kimia, sinar laser, minuman keras yang mengakibatkankerusakan janin khususnya pada bagian mata.

* Tuna Rungu
– Salah satu dari orang tua penderita merupakan pembawa sifat abnormal.
– Keracunan obat2an
– Ibu yang mengandung mengalami sakit pada masa 3 bulan pertama kehamilan.

* Tuna Daksa
– Anoxia prenatal disebabkan pemisahan bayi dari plasenta,penyakit anemia, kondisi jantung yang gawat, shock, percobaab abosrtus.
– Gangguan metabolism pada ibu
– Kromosom gen yang tidak sempurna

*Tuna Ganda
– Ketidak normalan kromosom komplikasi pada anak dalam kandungan ketidak cocokan Rh infeksi pada ibu yang kekurangan gizi pada saat sedang mengandung, serta terlalu banyak menkomsumsi obat dan alcohol.

2.5 Pandangan Masyarakat Terhadap Penderita Disabilitas

Umumnya masyarakat menganggap keberadaan penderita Disabilitas ini sebagai sesuatu hal yang merepotkan. Ada yang mengganggap keberadaan mereka sebagai aib keluarga, biang masalah, hingga kutukan akan sebuah dosa yang pada akhirnya semakin memojokkan disabilitas dari pergaulan masyarakat.

Pandangan masyarakat terhadap kaum disabilitas juga dibedakan menjadi dua model, yaitu individual model, dan social model. Individual model mengganggap jika kecacatan yang dialami oleh seseorang itulah yang dianggap sebagai masalahnya. Sedangkan social model mengganggap jika masalahnya bukan terletak pada kecacatan yang dialami oleh seseorang.

2.6 Peran Pemerintah Terhadap penderita Disabilitas

1. Dalam Aspek Ekonomi
Pemerintah belum menunjukkan keberpihakan pada penyandang Disabilitas. Selama ini pemerintah mendefinisikan kemiskinan hanya dari perspektif ekonomi. Padahal rumah tangga yang memiliki penyandang Disabilitas sangat berpotensi mengalami kerentanan menjadi miskin karena memiliki pengeluaran lebih tinggi dibandingkan keluarga lainnya untuk biaya perawatan Disabilitas.

2. Demikian halnya dalam bidang pendidikan, pemerintah semestinya dapat memberikan jaminan akses Disabilitas untuk mendapatkan pendidikan dasar dan inklusif. Tidak hanya sebatas membuka akses disabilitas bisa mengenyam bangku pendidikan saja, tetapi juga bisa menjamin proses pendidikan. Sayangnya belum semua anak Disabilitas dapat mengakses pendidikan dengan baik salah satunya dikarenakan adanya hambatan psikologis pada orang tua dengan anak Disabilitas dan jarak yang jauh ke pelayanan pendidikan membuat keluarga kesulitan dalam hal tersebut (Transportasi serta pendampingan pada saat pendidikan).

2.7 Peran Orang Tua terhadap anak dengan Disabilitas

Tidak sedikit orang tua yang belum bisa menerima kenyataan memilki anak dengan kondisi berbeda dengan kebanyakan anak normal lainnya. Banyak yang merasa malu, bahkan menyembunyikan keberadaan anak mereka. Akibatnya kondisi anak menjadi semakin terpuruk karena kurang mendapat perhatian. Padahal mereka memiliki potensi yang bisa dikembangkan dalam berbagai bidang.

Pendampingan bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat membantu mereka dalam menangani anaknya supaya bisa berkembang dengan maksimal, selain itu perlunya penguatan kompetensi bagi para pendamping (Relawan), guru sekolah luar biasa maupun sekolah inklusif pun perlu diupayakan serta perlunya Puskesmas Inklusif di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur . Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam menangani anak berkebutuhan khusus dan pelayanan kesehatan.

BAB III

3.1 Kesimpulan
Disabilitas memang merupakan sebuah kecacatan yang diderita oleh seseorang baik mental maupun fisik, ataupun cacat ganda, namun pada hakekatnya tak seorang pun yang ingin menderita cacat pada dirinya. Berbeda dengan orang normal pada umumnya mereka penderita Disabilitas memiliki permasalahan secara psikologis maupun fisik, penyebab terjadinya Disabilitas berbeda ada yang merupakan cacat dari lahir, cacat kecelakaan, akibat penyakit kronis dan banyak lagi hal tersebut membuat mereka rendah diri dan merasa tidak berguna di tengah kehidupan bermasyarakat, perasaan tersebut timbul karena pada dasarnya selama ini kepedulian masyarakat terhadap kaum disabilitas sangat kurang bahkan mereka di hina dan dikucilkan oleh orang lain.

Hal tersebut tidak mungkin terus menerus dibiarkan, di perlukan sikap dan pendekatan yang baik kepada penderita disabilitas agar merubah pola pikir mereka dan lebih memahami diri mereka bahwa diri mereka dapat bermanfaat untuk orang lain dan dapat melakukan aktivitas kehidupan layaknya manusia normal pada umumnya.

3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan mengenai Disabilitas diatas, sudah seharusnya kita masyarakat yang diberikan Tuhan kesempatan hidup dengan kesempurnaan tanpa ada kecacatan seperti kaum disabiliats dapat berpikir cerdas dalam menyikapi tingkah laku dan keberadaan kaum disabiliats ditengah lingkungan masyarakat. Bukannya menghina maupun merendahkan mereka, akan tetapi rangkul dan bantulah mereka ketika mereka membutuhkan bantuan dan biarkan ia hidup sebagaimana manusia normal pada umumnya, karena dimata Tuhan kita manusia sama derajatnya.

Begitupun pemerintah dan masyarakat harus lebih meningkatkan kampanye dan pemberitahuan kepada masyarakat lain dan pemahaman terhadap kaum disabilitas dengan hak mereka yang sama dengan kita, seperti membiarkan mereka disekolah umum, bekerja di tempat biasa tanpa ada perbedaan.

 

*penulis adalah ASN di Dinkes Kesehatan Tanjung Jabung Timur, anggota aktif PMI Kab. Tanjung Jabung Timur, Pokja Advokasi Kusta Lingkar Sosial Indonesia, pembina Forum Komunikasi Lepra dan Disabilitas Tanjung Jabung Timur serta anggota jaringan Farhan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat