Materi Advokasi Dasar Pemenuhan Hak-hak Difabel

Materi ini telah disampaikan dalam Pelatihan Advokasi bagi Paguyupan Orang Tua Penyandang Disabilitas dan Penyandang Disabilitas di Kabupaten Malang. Pelatihan diselenggarakan oleh PPRBM Bhakti Luhur pada Kamis 25 April 2019 di agrowisata petik madu Lawang kabupaten Malang.

Menurut Theresia Pudjiastuti penanggung jawab acara tersebut bahwa pelatihan bertujuan agar peserta mengetahui arti advokasi, memahami pihak-pihak yang bisa berkolaborasi dalam advokasi serta mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari upaya perlindungan pemenuhan dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas.

Materi pelatihan advokasi disampaikan oleh Kertaning Tyas atau Ken Kerta pendiri Lingkar Sosial Indonesia, sebuah organisasi di Malang yang fokus pada advokasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Materi diberikan dalam bentuk paduan games, teori dan roleplay sehingga terbangun situasi interaktif dan komunikatif sepanjang pelatihan.

Berikut beberapa catatan materi Sebagai panduan dasar praktis difable dalam melakukan advokasi:

Apa itu advokasi?
  1. Advokasi merupakan cara-cara untuk mendorong seseorang atau kelompok melakukan suatu tindakan atau kebijakan yang membela sekelompok masyarakat atau golongan.
  2. Advokasi merupakan strategi untuk mendorong pemangku kebijakan merubah kebijakan yang telah ada maupun membuat kebijakan baru.
Tujuan advokasi bersifat sistematik, terkait dengan perubahan kebijakan maupun penetapan regulasi yang bersifat membela atau melindungi kelompok masyarakat tertentu.

Mengingat persiapan dasar advokasi:

  1. Membangun mindset bahwa disabilitas adalah identitas manusia bukan cacat atau tidak normal.
  2. Memahami hak-hak penyandang disabilitas
  3. Memahami pokok-pokok persoalan atau hak-hak disabilitas yang mengalami pelanggaran
  4. Membangun sikap inklusif bahwa advokasi hak-hak penyandang disabilitas merupakan tanggung jawab semua pihak

Mengenal model advokasi, meliputi:

  1. Advokasi reaktif: demontrasi, petisi
  2. Advokasi konstruktif: ide dan kerjasama

Mengenal prinsip-prinsip advokasi:

  1. Berbasis hak asasi manusia
  2. Tanpa Diskriminasi.
  3. Menghormati dan mengakui keberagaman, melibatkan semua pihak.
  4. Edukatif, anti kekerasan
  5. Fokus, efektif dan persuasif

Mengenal tingkatan advokasi:

  1. Advokasi kepada perorangan, misal mempengaruhi difable mental untuk melakukan pemeriksaan rutin di pusat layanan kesehatan
  2. Advokasi kepada keluarga, misal mempengaruhi keluarga difable agar mampu menerapi anaknya secara rutin di pusat layanan kesehatan
  3. Advokasi kepada tokoh masyarakat, misalnya mempengaruhi tokoh masyarakat di kampung kusta agar anak-anak muda di kampung tersebut boleh mengikuti pelatihan kerja di BLK
  4. Advokasi kepada pemangku kebijakan misalnya mendesak bupati atau walikota untuk merumuskan pembangunan ramah disabilitas
  5. Advokasi terhadap pemerintah pusat misalnya mendesak presiden untuk segera mengesahkan RPP undang-undang disabilitas dan membentuk Komite Nasional disabilitas
  6. Advokasi terhadap pemangku kebijakan di tingkat regional, misal mempengaruhi para pemimpin-pemimpin di Asean untuk memperhatikan kebutuhan olahraga penyandang disabilitas.
  7. Advokasi terhadap pemangku kebijakan di tingkat dunia, misalnya mempengaruhi para pemimpin dunia di PBB bahwa isu kusta merupakan isu dunia yang pengobatannya menjadi tanggung jawab WHO.

Strategi mempengaruhi kebijakan atau regulasi:

  1. Bergabung atau membentuk kelompok atau organisasi
  2. Menjadi bagian dari sistem kebijakan atau bekerja sama dengan pemangku kebijakan
  3. Bertatap muka dengan pemangku kebijakan agar merubah kebijakan atau membuat kebijakan baru misalnya melalui audiensi atau pertemuan silaturahmi
  4. Berpegang teguh pada isu-isu disabilitas di tengah isu-isu mainstream pada setiap pertemuan advokasi
  5. Membuat petisi, Persentasi publik, komunikasi email
  6. Persentasi publik di depan para pemangku kebijakan
  7. Membuat surat atau email terhadap pemangku kebijakan
  8. Bekerjasama dengan media

Mengenal sasaran/ target yaitu siapa yang akan kita pengaruhi dalam advokasi.

Siapakah yang menjadi sasaran advokasi?

  1. Institusi, misal lembaga swasta, lembaga pemerintah
  2. Masyarakat sipil, misal organisasi kemasyarakatan, Yayasan, kelompok masyarakat dll

Bagaimana kriteria target atau sasaran advokasi?

  1. Tokoh yang berpengaruh dalam pengambilan kebijakan
  2. Tokoh dengan basis massa yang besar
  3. Tokoh yang memiliki jaringan dan hubungan dekat dengan pemangku kebijakan
Tokoh yang menjadi sasaran utama atau kasi disebut sebagai aktor kunci. Selanjutnya tokoh-tokoh yang berpengaruh yang berada disekitar atau terkunci disebut sebagai faktor sekunder.
Terdapat faktor lainnya yaitu konstituen dan aliansi. Konstituen adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan/ manfaat terhadap hasil advokasi. Aliansi merupakan gabungan pihak-pihak kepentingan.
Penting. Sasaran advokasi bukanlah institusi atau masyarakat sipil secara keseluruhan melainkan individu-individu yang menjadi kunci mengambil keputusan. Misal kepala Kepolisian Republik Indonesia, presiden RI, ketua DPR, kepala sekolah dan sebagainya.

Bagaimana merencanakan advokasi?

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Analisis Masalah (pohon masalah)
  3. Menentukan tujuan advokasi (5w)
  4. Menentukan aktor kunci, yaitu pihak-pihak yang memiliki wewenang atau kekuasaan untuk memutuskan, pihak-pihak yang mampu mempengaruhi pemangku kebijakan.
  5. Memetakan kekuasaan aktor kunci. pemetaan ini meliputi besarnya pengaruh aktor kunci terhadap isu yang diadvokasi. tingkat ketertarikan aktor kunci pada isu, tingkat dukungan aktor kunci, tingkat kedekatan aktor kunci dengan organisasi
  6. Menentukan target sekunder yang potensial, yaitu orang-orang yang berada disekeliling aktor kunci yang berpotensi memberikan pengaruh terhadap faktor kunci tersebut.
  7. Menentukan aliansi, dengan pertimbangan: besarnya pengaruh, tingkat dukungan terhadap advokasi, apa yang didapat atau manfaat dari aliansi, apa yang pihak-pihak berikan sebagai aliansi
  8. Menentukan lawan, pendukung, dan pesaing. Lawan karena adanya konflik kepentingan. Sedangkan pendukung adalah kelompok kepentingan. Serta pesaing yaitu adanya kemungkinan kompetisi organisasi dan peluang kolaborasi.
  9. Mempersiapkan amunisi yaitu data. Data dalam bentuk tulisan, dokumentasi foto dan video.

Langkah-langkah advokasi diplomatis persuasif:

  1. Siapkan poin-poin penting dalam diplomasi
  2. Siapkan penampilan yang baik untuk menghargai diti sendiri dan orang lain
  3. Datang tepat waktu atau lebih awal untuk menciptakan kenyamanan pribadi.
  4. Terlibat penuh dalam suasana komunikasi
  5. jika sudah pernah berdiskusi sebelumnya tanyakan perkembangan diskusi itu dan hal-hal yang bisa ditindaklanjuti
  6. minta akses spesifik seperti program atau kebijakan yang diinginkan sesuai dengan kepentingan advokasi
  7.  Jelaskan bahwa apa yang kamu tawarkan memiliki dampak jangka panjang dan manfaat
  8. Jawab dengan jujur setiap pertanyaan dan jika tidak bisa menjawab sampaikan bahwa akan segera mencari tahu
  9. Konfirmasi ulang nyatakan kembali apa yang menjadi materi advokasi dan tujuan
  10. Sabar tidak semua pertanyaan yang kita ajukan akan melaporkan jawaban atau keputusan pada saat itu juga mungkin pada lain waktu
  11. Tindak lanjut komunikasi kirimkan ucapan terima kasih melalui WhatsApp atau SMS atau email.
  12. Pantau perkembangan komunikasi secara berkala jika perlu dilakukan komunikasi secara personal. Lakukan komunikasi online dengan respon cepat. Slow respon atau respon lambat dapat mengurangi apresiaisi orang lain.
  13. Dorong pihak konstituen atau aliansi untuk mengirimkan surat kepada pengambil kebijakan agar mengambil keputusan yang strategis.

Mengingat 4 kata kunci sukses advokasi:

  1. Data, aplikasi mutlak berbasis data bukan asumsi
  2. Diplomatis persuasif, advokasi bersifat pendekatan persuasif bukan kekerasan atau ancaman.
  3. Tepat Sasaran, tentukan akar-akar kunci dan Pendukung serta aliansi secara tepat
  4. Sabar, advokasi merupakan proses perubahan melalui tindakan-tindakan edukatif dan persuasif serta berkelanjutan.
Salam Inklusi, selamat advokasi.
WhatsApp chat