Mengikis Stigmatisasi Kusta dalam Bisnis Kuliner

Lingkarsosial.org, Surabaya- Bisnis kuliner atau makanan adalah salah satu usaha yang menjanjikan di era ini, setidaknya karena setiap hari manusia tidak lepas dari kebutuhan makanan. Akan tetapi bagi orang yang mengalami kusta (OYPMK) bisnis makanan merupakan tantangan tersendiri di tengah masih kuatnya stigma masyarakat terhadap kusta. Pendek kata orang cenderung memilih membeli makanan pada toko atau warung lain dari pada belanja pada OYPMK karena berbagai alasan.

Survei penulis di dusun Sumberglagah, desa Tanjung Kenongo, kecamatan Pacet, kabupaten Mojokerto tahun 2014 silam menunjukkan minimnya minat orang yang mengalami kusta melakukan bisnis kuliner. Pada dusun yang dikenal masyarakat sekitar sebagai Kampung OYPMK ini, dari 70 KK yang diteliti hanya terdapat satu keluarga yang menjalankan bisnis catering, itupun didominasi oleh pemesan dari dalam kampung sendiri.

Makanan bukan media penularan kusta

Pengelola Program Kusta Dinas Kesehatan Jawa Timur, Sumarsono SKM menegaskan bahwa makanan bukanlah media penularan kusta. Namun minimnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit yang menyerang sel saraf tepi ini menimbulkan salah paham bahwa makanan yang telah tersentuh oleh OYPMK dapat menjadi media penularan.

“Stigma masyarakat terhadap makanan produk orang yang pernah mengalami kusta masih ada, ditandai dengan perilaku masyarakat yang cenderung menghindar karena jijik, takut tertular dan lainnya,” ungkap Sumarsono (19/5) di sela Pelatihan Perspektif Disabilitas dan Kusta bagi Jurnalis di Hotel Harris Surabaya. Meski faktanya secara medik bahwa makanan bukanlah merupakan media penularan.

Kusta merupakan penyakit tahunan menular yang disebabkan oleh mycobacterium leprae. Penularan penyakit ini hanya dapat melalui kontak yang terus-menerus dan dalam jangka waktu panjang dengan penderita kusta yang belum mendapatkan pengobatan. Sementara itu ketika orang yang mengalami kusta sudah mendapatkan pengobatan multidrug terapi atau MDT maka bakteri tidak akan dapat lagi melakukan penularan.

Fakta lainnya, 95% orang kebal kusta. Sisanya 5%, sebanyak 3% orang yang mengalami kusta bisa sembuh dengan sendirinya dan sisanya 2% harus menjalani pengobatan. Meski demikian dari prosentasi yang kecil ini jika penderita terlambat menjalani pengobatan maka dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh secara permanen, seperti pemendekan jari-jari tangan dan kaki, serta komplikasi penyakit lainnya akibat sel saraf yang mati rasa.

“Namun ini persoalan stigma dan masyarakat tidak bisa disalahkan, yang ada adalah langkah kita semua harus terus melakukan edukasi,” sambung Sumarsono kembali membahas perihal stigma masyarakat terhadap makanan olahan OYPMK.

Juga langkah lainnya adalah mensiasati model bisnis, tukas Sumarsono. Misalnya seperti OYPMK di Situbondo yang sukses berjualan keripik gadung, juga di Madiun ada yang sukses berbisnis keripik tempe. Teknisnya OYPMK berada di balik layar, misal sebagai pemodal ataupun produksi, sedangkan untuk bagian pemasaran ditangani oleh anggota keluarga atau karyawan.

Kisah sukses Rukiah OYPMK dengan bisnis makanan dan sembako

Rukiatun warga dusun Babat Jerawat, Surabaya adalah salah satu contoh OYPMK yang sukses melalui usaha makanan dan sembako. Sukses tersebut ditandai dengan dimilikinya sebuah rumah permanen serta mampu menyekolahkan anak hingga tingkat atas dan perguruan tinggi.

“Saya memulai berjualan makanan di Rumah Sakit Kusta Kediri,” tutur Rukiatun mengenang kisahnya ketika ditemui di kampung kediamannya Bukit Jerawat, Surabaya. Diawali dengan sakit kusta yang ia alami di usia 15 tahun. Rukiah remaja kala itu melakukan pengobatan jalan di Nganget. Berlanjut Rukiah yang mengalami kusta tipe kering ini disarankan oleh seorang dokter untuk melakukan pengobatan yang lebih baik di Rumah Sakit Kusta Kediri.

” Di Rumah Sakit Kusta Kediri, saya merasa sangat senang karena berkumpul dengan sesama penderita kusta serta pelayanan dokter dan perawat yang baik,” tutur perempuan berusia 51 tahun ini. Kusta kering yang saya alami sebenarnya hanya memerlukan 6 bulan pengobatan, namun meski telah dinyatakan sembuh saya tak jua ingin pulang ke rumah.

“Alhamdulillah ketika itu dokter mengijinkan saya untuk tinggal sementara di rumah sakit tersebut. Bahkan diizinkan pula untuk berjualan makanan,” tuturnya. Tak terasa hingga 5 tahun saya tinggal di dalam komplek Rumah Sakit Kusta tersebut. Bahkan di tempat itu pula saya berkenalan dengan lelaki sesama OYPMK yang kemudian menjadi suami.

Calon suami saya orang Bratang Surabaya, namun ketika itu kami memutuskan untuk menikah di luar kampung halaman masing-masing yaitu di dusun Babat Jerawat, Surabaya. Di dusun ini pun kami berkumpul kembali dengan orang-orang yang pernah mengalami kusta.

“Alasannya ya untuk membangun kehidupan yang lebih baik bersama orang-orang yang senasib,” tutur Rukiatun sumringah. Namun kami sadar tidak selamanya akan tinggal menumpang di kampung tersebut. Itu lahan pemerintah jadi kami hanya menumpang saja maka maka dengan segala daya upaya kami bekerja dan menabung untuk dapat memiliki tempat baru milik sendiri.

Rukiatun dan suaminya pun bekerja keras. Dalam kesehariannya ia menjual makanan, sembako dan kebutuhan rumah tangga, sedangkan suami saya menjadi tukang rosok. Sedikit demi sedikit sebagian hasilnya tabung hingga pada tahun 1994 mereka mampu membeli rumah di kampung Bukit Jerawat seharga sepuluhjuta limaratusribu rupiah.

Kerja keras mereka pun berbuah manis. Diatas lahan kosong tersebut usaha membangun rumah permanen. Bahkan suami-istri OYPMK ini mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Anak mereka yang pertama lulusan D3 Keperawatan, saat ini bekerja di salah satu klinik, sedangkan anak kedua atau yang terakhir duduk di bangku SMK kelas 2.

“Bagi orang yang pernah mengalami kusta, kuncinya adalah percaya diri agar segera sembuh, berobat secara benar agar tidak mengalami kecacatan sehingga bisa bekerja seperti orang pada umumnya,” pesan Rukiatun. Praktiknya kami tidak enggan berbaur dalam kegiatan masyarakat seperti gotong royong dan Yasinan. Mengharapkan masyarakat dapat menerima kita seutuhnya dimulai dari diri kita menerima kondisi kita apa adanya. (Ken)
WhatsApp chat