Mengulik Tosan Aji dari Sisi Seni, Mistis dan Heritage

Oleh: Ken Kerta

Paguyuban pelestari Tosan Aji Malang secara berkelanjutan menggelar pameran keris. Berangkat dari pameran dalam rangka  Hari Masyarakat Adat, 16-17 Maret 2019 di Gedung  Dewan Kesenian Malang (DKM), dan pameran-pameran sebelumnya, even-even nasional akan terus dilakukan secara mobile dari kota ke kota.  Hal ini bertujuan untuk melestarikan budaya luhur bangsa khususnya keris sebagai salah satu elemen budaya dan identitas bangsa Indonesia.

Berkaitan dengan masyarakat adat diterangkan oleh koordinator even Wahyu Eko Setiawan bahwa pada setiap suku bangsa di Indonesia pasti memiliki 5 elemen identitas etnik yaitu pakaian tradisional, senjata, sesaji, ritual dan tempat yang disakralkan atau kepunden.

“Nah, dalam event ini kami fokus pada satu elemen yaitu keris, salah satu jenis senjata dan ikon pusaka bangsa Indonesia,” tutur Wahyu Eko Setiawan (22/2) saat ditemui penulis di Sekolah Budaya Tunggul Wulung, kota Malang.

Mengapa pameran keris ini penting? Menjawab pertanyaan ini budayawan asal Malang yang akrab dipanggil sam Wes ini menjelaskan bahwa di dalam pusaka yang disebut pula sebagai Tosan Aji ini, terdapat filosofi-filosofi budaya luhur yang penting diketahui dan bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

“Manfaatnya seperti apa nanti akan kami jelaskan dalam sesi sarasehan pada acara pameran Tosan Aji nanti,” tukas Sam Wes.

Seperti diketahui Keris Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)  oleh UNESCO pada 25 Nopember 2005. Adanya pengakuan tersebut, mempunyai konsekuensi agar semua pihak melakukan banyak hal dalam melestarikan dan mengembangkan perkerisan Indonesia.

“Pameran Tosan Aji ini akan dihadiri oleh paguyuban-paguyuban pelestari pusaka dari berbagai tempat di Indonesia,” terang sam Wes. Diantaranya yang telah memberikan konfirmasi hadir selain beberapa paguyuban di pulau Jawa juga Komunitas dari Bali, Lombok dan Sulawesi.

Dalam even nasional ini, pameran Tosan Aji menyajikan dua hal penting yaitu bursa keris dan edukasi. Dalam bursa keris kita akan membuka kesempatan transaksi atau jual beli antar pengunjung dan peserta dari masing-masing paguyuban. Sedangkan dalam sesi edukasi kami akan mengulas pemahaman tentang apa itu keris, kemudian filosofi-filosofi yang terkandung di dalamnya. Edukasi bisa dalam bentuk talkshow, sarasehan, workshop atau lainnya, masih sedang kita godok, papar Wahyu.

Keris sebagai pusaka dan karya seni

Lebih lanjut Wahyu Eko Setiawan mengulas Tosan Aji dari sisi heritage dan karya seni. Keris sebagai warisan budaya luhur bangsa selain pada masa lampau banyak ditempatkan sebagai benda pusaka, senjata etnik ini juga memiliki nilai karya seni yang tinggi.

“Pada prinsipnya setiap benda di alam semesta ini memiliki energi,” kata sam Wes, akan tetapi sifat daya dan karakter setiap zat adalah berbeda. Khususnya keris, ia terbuat dari besi pilihan dan diolah dengan cara khusus sehingga menimbulkan daya tertentu sesuai dengan tujuan dari pembuatan tosan aji tersebut. Sedangkan keris dipandang dari sisi seni atau karya cipta misalnya bisa dilihat dari keindahan lekuk, ukiran, keunikan gagang dan lainnya yang kemudian melahirkan nilai ekonomis.

Dalam beberapa diskusi terpisah penulis dengan para pecinta keris, bahwa Tosan Aji sebagai warisan budaya luhur bangsa yang pula memiliki bernilai seni diyakini memiliki energi tertentu untuk memudahkan kehidupan manusia. Bagi mereka yang meyakini hal tersebut merupakan salah satu cara manusia memanfaatkan alam semesta untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan zamannya.

Misalnya pada zaman ini senjata api merupakan salah satu jenis alat pengaman diri, maka pada zaman sebelumnya keris tombak celurit dan lainnya juga memiliki fungsi yang sama. Atau contoh lainnya di luar persenjataan, seperti jika hari ini orang menggunakan handphone untuk komunikasi maka pada zaman dulu orang menggunakan telepati untuk kontak jarak jauh.

“Karena pada prinsipnya setiap benda di alam semesta ini memiliki energi, termasuk keris,” jelas Santoso, pria asal Ngawi ketika ditemui penulis beberapa tahun silam di kediamannya. Pria dengan hambatan penglihatan sejak lahir pada salah satu matanya ini,   meyakini bahwa adanya kekuatan kekuatan yang ada pada setiap benda merupakan elemen alam semesta yang bisa diolah dan digunakan oleh manusia.

“Tosan Aji dengan bahan yang baik, dengan bahan tertentu dan dengan cara-cara tertentu dalam pengolahan besinya,  penempahan dan sebagainya, disertai dengan tirakat-tirakat untuk mengkombinasikan kekuatan alam dengan kekuatan pembuatnya akan melahirkan daya tertentu dan manfaat sesuai dengan tujuan pembuatan keris.

Mengulik sisi mistis tosan aji 

Bagi orang yang memiliki kepekaan mendeteksi kekuatan supranatural bisa mencoba menguji teknik ini, terang Santoso yang dikenal oleh lingkungannya sebagai orang pintar ini. Tidak penting menggunakan besi pilihan cukup dua buah paku biasa. Lanjutnya,  satu paku ditanam pada tanah di halaman rumah, kemudian satu paku berikutnya ditanam di dalam area makam.

Kemudian pada waktu yang ditentukan, misal 7 hari atau 40 hari atau berapapun lamanya,  ketika kedua paku tersebut diambil dari tempatnya masing-masing, mulailah dilakukan uji coba daya.

“Kemungkinan besi yang ditanam pada areal makam akan memiliki daya yang lebih,” ungkap Santoso. Persoalannya bukan karena besi tersebut kemasukan roh atau semacamnya, melainkan area makam memiliki kandungan energi yang lebih besar dari tempat disekitarnya, pengaruh dari energi  jasad-jasad yang terkubur.

Namun  apakah daya yang berada pada area makam yang terserap dalam besi tersebut bersifat baik atau buruk Apakah dapat bertahan lama atau sementara cara keluar dari uji coba ini. Yang pasti semakin baik kualitas besi maka ia akan semakin memiliki daya serap terhadap energi alam dan kemampuan untuk mempertahankan energi tersebut. Nggak heran jika konon orang pada zaman dahulu membuat keris dari bahan besi yang jatuh dari langit atau pada masa kemudian disebut sebagai besi meteor. Atau bahan-bahan besi yang ditambang dari tebing tebing curam yang jauh dari jangkauan manusia.

“Nah, energi-energi alam yang terkandung dalam Tosan Aji tersebut dikolaborasikan dengan niat dan kekuatan doa melalui tirakat-tirakat serta ritual-ritual agar energi yang dihasilkan memberikan dampak dan manfaat yang baik bagi pemegangnya maupun lingkungannya,” papar Santosa.

Kemudian apakah meyakini kekuatan yang terkandung dalam keris merupakan perbuatan syirik? Tentu ini sangat relatif sebab dalam pemahaman dan keyakinan tertentu seluruh benda-benda, seluruh wujud-wujud yang ada di alam semesta ini berada di dalam genggaman Ilahi atau dengan kata lain Tuhan meliputi segenap alam semesta.

Apresiasi masyarakat tradisional dan millenial terhadap tosan aji 

Dalam ulasan lainnya, pemerhati budaya Novi Fani  mengatakan  apresiasi atas adanya pameran Tosan Aji ini. “Saya pikir ini merupakan wujud kepedulian masyarakat tradisional di era modern ini terhadap warisan budaya luhur,” tutur Novi dalam diskusi bersama penulis belum lama ini di Malang.

Jadi berbeda antara masyarakat tradisional dengan masyarakat adat, ulas perempuan berdarah Minang ini.  Jika berbicara tentang masyarakat adat ini akan merujuk pada suatu komunitas tertentu dan dengan kawasan dan aturan tersendiri. Yang yang kemudian areal mereka disebut sebagai tanah adat atau tanah ulayat yang dalamnya yang didalamnya terdapat pula aturan-aturan yang ada di masyarakat sesuai dengan kearifan lokal yang berlaku.

Sedangkan masyarakat tradisional, lanjut Novi, merupakan komunitas yang telah mengalami kenaikan satu step istilahnya. Mereka bukan lagi masyarakat adat, melainkan masyarakat era ini yang masih menggunakan sebagian dari aturan, adat maupun tradisi yang digunakan oleh masyarakat adat. Termasuk dalam hal ini tradisi persenjataan tosan aji.

Dalam diskusi bersama penulis, Novi sepakat bahwa keberadaan komunitas-komunitas seperti paguyuban Tosan Aji penting ada untuk saat ini. Banyak hal positif yang terkandung dalam budaya luhur termasuk aturan-aturan yang hingga saat ini berlaku dalam masyarakat adat. Meski dalam sisi kehidupan modern aturan tersebut masih dianggap sebagai kuno maupun ketinggalan zaman.

“Berbicara soal keris misalnya yang disebut telah menjadi identitas bangsa Indonesia,” papar Novi.  Senjata tradisional yang hampir ada di setiap suku budaya meski dengan nama dan bentuk yang berbeda. Seperti keris di Padang misalnya,  berukuran lebih kecil dibandingkan keris dari Bali, juga mengapa keris pagi orang Jawa Itu ditempatkan di belakang? Ini adalah sebuah hal yang penting untuk diulas oleh paguyuban paguyuban pelestari Tosan Aji.

Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan tombak khas Jawa saja, melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan, seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain.

Penulis sepakat,  edukasi semacam ini sangat penting karena orang masih lebih banyak melihat keris dari sisi mistis nya dari pada sisi lainnya. Padahal dalam segi karya seni maupun dari sisi yaitu pasal falsafah hidup yang terkandung dalam senjata tradisional sangat penting untuk di mana yg dalam kehidupan sehari-hari.

Diantara makna yang terkandung dalam keris misalnya jika kita melihat pada acara temanten, tosan aji yang dibalut oleh untaian bunga melati. Keris merupakan salah satu bentuk piandel atau senjata, sedangkan bunga dalam kehidupan sehari-hari melambangkan keharuman dan kelembutan. Jika digabungkan kedua unsur tersebut yang ada adalah kekuatan dan kelembutan, artinya sabar dan tidak boleh brangasan meskipun memiliki kekuatan atau piandel.

Menengok masa kerajaan Demak, dalam pertarungan antara Arya Penangsang dan Sutawijaya. Aryo Penangsang yang dikenal sebagai seorang yang tempramen makin marah dan membabi buta ketika Sutawijaya berhasil menusuk perutnya dengan keris  Kyai Pleret. Dengan usus yang terburai Arya Penangsang tetap melanjutkan pertarungan.

Dikalungkannya usus yang keluar dari perut itu pada keris yang ada di pinggangnya. Dan saatnya ketika Arya Penangsang mencabut kerisnya yang bernama Setan Kober itu untuk menusuk Sutawijaya, yang terjadi justru tosan aji itu memotong ususnya sendiri. Dari riwayat itulah dimunculkannya filosofi keris dengan untaian bunga.

Namun bagi masyarakat sekitar Cepu entah itu yang berada di Kabupaten Blora maupun Kabupaten Bojonegoro berpendapat lain. Untaian bunga melati pada keris pengantin pria Jawa diibaratkan sebagai lambang kegagahan Arya Penangsang. Meskipun telah terburai isi perutnya, namun Arya Penangsang tetap masih mampu tegap berdiri hingga titik darah penghabisan.

Dari perlambang itu, diharapkan sang pengantin laki-laki kelak bisa menjaga kemakmuran, kebahagiaan, keutuhan dan kehormatan rumah tangga meski dalam keadaan kritis seperti apa pun. Seperti halnya Arya Penangsang yang tetap memegang prinsip hingga ajal tiba.

Berbagai ragam pandangan soal tosan aji baik baik dari sudut pandang mistis, seni maupun heritage, termasuk dari berbagai kalangan usia, bagi Wahyu Eko Setiawan adalah aset keragaman bangsa Indonesia.

“Saat ini para penggemar keris beragam usianya. Mulai dari usia 15 tahun sampai dengan yang berusia sepuh atau tua. Dengan kecenderungannya saat ini memandang keris sebagai benda pusaka yang mengandung nilai-nilai karya seni yang tinggi. Itulah yang kita edukasikan,” ungkap sam Wes menutup pembicaraan. (Ken)

Info Pameran Tosan Aji Malang,  kontak Sam Wes di 0813 3344 4751

 

Jadwal Pameran dan Bursa Wesi Aji Nusantara:
  • 12 Juni 2019, di Instalasi Pelabuhan Perikanan Pantai Lekok, Pasuruan.
  • 14 – 16 Juni 2019, di Candi ratu Boko, DIY.
  • 15 – 19 Juni 2019, di Istana Gebang, Kota Blitar.
  • 28 – 30 Juni 2019, di Pendopo Kabupaten Nganjuk.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat