Tumbuhkan Cinta untuk Wujudkan Kesetaraan Hak Politik bagi Penyandang Disabilitas

Oleh: Ken Kerta*

Menarik dan sangat berkesan bergabung dalam acara sosialisasi Pemilu 2019 dengan tema Menjamin Kesetaraan Hak Politik bagi Penyandang Disabilitas yang diadakan oleh KPU Kabupaten Tuban dan relasi segmen disabilitas. Beberapa kalimat kunci yang penulis dapatkan dari pertemuan itu adalah bagaimana menumbuhkan rasa cinta antar pihak, memberikan kesempatan kepada difabel serta menciptakan irisan kepentingan sosial dan ekonomi dalam berkegiatan sehingga dapat merangkul masyarakat disabilitas terlibat dalam penggunaan hak politiknya.

Kegiatan sosialisasi (11/4) yang dikemas dalam dialog interaktif ini dilaksanakan di Kabupaten Tuban tepatnya di Mamaku Angkringan Modern Cafe. Menghadirkan narasumber kompeten yaitu Yayuk Dwi Agus S., SH. MH, dari Divisi SOSDIKLIH, SDM, & PARMAS KPU KAB.TUBAN, Fira Fitria, SE, Koordinator Segmen Difabel Relasi KPU KAB. TUBAN serta penulis sendiri Ken Kerta sebagai Sekretaris Jenderal Forum Jatim Inklusi.

Acara yang dihadiri oleh belasan peserta dari penyandang disabilitas, dan jaringan relasi dari beberapa segmen ini juga disimak oleh pengunjung cafe secara umum.

“Yang terpenting dalam kegiatan bersama teman-teman disabilitas adalah berangkat dari rasa cinta,” ungkap Yayuk Dwi Agus menjawab pertanyaan peserta tentang bagaimana kiat melibatkan penyandang disabilitas dalam penggunaan hak politiknya. Ketika rasa cinta mampu kita tumbuhkan maka akan ada saling keterkaitan antara kedua belah pihak.

Saya melakukan kunjungan door to door ke rumah penyandang disabilitas sejak sebelum adanya program inklusivitas pemilu, imbuh Yayuk yang pada periode Pemilu sebelumnya juga telah bergabung dengan KPU Kabupaten Tuban. Dengan upaya pendekatan tersebut maka keterlibatan penyandang disabilitas dapat terwujud untuk mendorong cita-cita kesetaraan hak politik.

Dalam kesempatan itu Yayuk juga menjelaskan bagaimana proses KPU Kabupaten Tuban menyiapkan pelaksanaan pemilu yang akses bagi penyandang disabilitas. Dikatakannya keterlibatan difabel dalam program Relawan Demokrasi merupakan salah satu bentuk nyata agar pemilu benar-benar terlaksana secara akses sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

Disebutkan Yayuk keterlibatan tersebut dimulai dari proses sosialisasi pemilu, ketersediaan pendamping, kecakapan petugas dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas hingga TPS yang aksesibel.

Merangkul difabel untuk menggunakan hak politiknya, dalam proses penyampaiannya pun tidak serta merta harus to the point pada persoalan politik. Menurut Yayuk, kita bahkan bisa memulai perbincangan dengan mereka dengan tema di luar politik maupun pemilu melainkan bisa dengan tema lain yang sesuai dengan minat dan kapasitas teman-teman disabilitas.

Nah dari obrolan dan silaturahmi inilah kemudian terjadi kedekatan dan mereka akan percaya pada kita ketika mengajak pada suatu kegiatan termasuk yang berkaitan dengan politik dan pemilu akses. Dan inilah salah satu contoh bagaimana cinta itu penting ditumbuhkan dalam kita menjalankan tugas, ujar Yayuk kembali menandaskan.

Sementara itu koordinator relasi segmen difabel KPU Kabupaten Tuban, Fira Fitria menjawab pertanyaan yang sama tentang kiat keterlibatan penyandang disabilitas dalam penggunaan hak politik adalah menekankan adanya peluang atau kesempatan yang diberikan kepada difabel.

“Berikan kami kesempatan karena ketika itu ada kami akan berupaya untuk membuktikannya,” tandas Fira Fitria. Seperti saat ini terang Fira adanya kesempatan bergabung dalam relawan demokrasi segmen disabilitas membuat ia dan kawan-kawan bekerja keras untuk terus mensosialisasikan hak politik dan pemilu akses bagi penyandang disabilitas.

Apalagi saya sebagai seorang penyandang cerebral palsy dengan lingkungan yang kurang aksesibel adalah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh semangat, tutur gadis yang aktif di organisasi disabilitas ini. Koordinator Relasi segment difabel ini juga menceritakan bagaimana tantangannya mengadakan pertemuan-pertemuan sosialisasi dengan kelompok difabel serta bagaimana ia dengan hambatan kinetiknya melakukan kunjungan door to door untuk memberikan penyadaran warga dengan disabilitas dan keluarganya.

Sepakat dengan apa yang disampaikan oleh kedua narasumber tersebut yaitu tentang cinta dan kesempatan, penulis yang pula sebagai narasumber dari Forum Jatim Inklusi memaparkan tantangan dan kiat merangkul disabilitas dalam kegiatan.

Kiat pertama adalah bagaimana mengorganisir teman-teman difabel. Meski secara otomatis masyarakat difabel memiliki kecenderungan berkumpul akan tetapi belum tentu mereka terorganisir dengan baik. Tantangannya adalah apakah mereka mau menerima niat kita untuk bekerja sama? Tidak menutup mata saat ini masih terdapat sebagian kelompok difabel yang masih eksklusif atau bersifat kekhususan yang belum bisa memahami konsep inklusivitas.

Kiat kedua adalah menciptakan irisan kepentingan kegiatan sosial dan ekonomi. Sepakat dengan Yayuk Dwi Agus, bahwa merangkul masyarakat penyandang disabilitas untuk menggunakan hak politiknya tidak serta merta langsung pada pokok persoalannya. “Di Malang kami membuat Kelompok kerja difabel agar kegiatan sosial mereka dalam organisasi memberikan kontribusi ekonomi,” ungkap penulis.

Kepentingan ekonomi tidak bisa lepas dari kehidupan manusia termasuk masyarakat penyandang disabilitas. Nah, dengan adanya irisan antara kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi ini menyebabkan masyarakat termasuk difabel akan memiliki cukup logistik untuk dirinya dalam kegiatan sosial juga untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Faktor ini kemudian yang menyebabkan kegiatan-kegiatan difabel termasuk upaya merangkul penggunaan hak politik akan efektif dan berkelanjutan.

* Penulis adalah Sekretaris Jenderal Forum Jatim Inklusi, sekaligus Relawan Demokrasi kab. Malang

WhatsApp chat