Collaborative Action for Zero Leprosy

By: Kertaning Tyas, founder of Lingkar Sosial Indonesia

Zero Leprosy is a zero leprosy commitment or no more people who suffer from leprosy, stigma and discrimination. This commitment is very important considering that stigma and discrimination are still strongly attached to the community even though the number of leprosy decreases every year. Zero leprosy efforts are important to be carried out jointly by all parties in the world. For this reason, Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) as one of the organizations that focuses on the issue of leprosy and disability takes collaborative steps.

At the local level Lingkar Sosial Indonesia initiated the establishment of the Malang Inclusion Forum (FOMI) through the movement of One Mission to Malang-friendly disabled people. This action succeeded in encouraging the deliberation of the thematic development plan for the disability of Malang city and encouraging other public policies. Regarding leprosy advocacy, the Malang Inclusion Forum which was established on 15 September 2016 has had a lot of influence on the community through education and awareness or disability awarrenes.

“Lingkar Sosial Indonesia also builds diffable entrepreneurial working groups as a business center and entrepreneurial network for disabled people and people affected by leprosy. This effort to effectively improve community, welfare increases economic independence and reduces stigma and discrimination.”

At the regional level of East Java, Lingkar Sosial Indonesia again initiated the birth of a forum across community organizations. Currently have joined several disability groups including the leprosy community. This coalition is the East Java Inclusion Forum (FOJI), established on January 1, 2019 in Malang. The organization’s first action was to hold a peaceful action in the World Leprosy Day in the Lamongan district square with the Lamongan Regency Government and the Health Office. On this occasion all parties agreed to commit themselves to stop leprosy, stop discrimination and stop infection. In the event, which was attended by approximately 300 people, it also presented the regent of Lamongan, Fadeli and the ranks of the Health Office and all the heads of puskesmas and leprosy officers in Lamongan.

While at the national level, Lingkar Sosial Indonesia joined the Indonesian Movement for Disability and Leprosy (GPDLI) and the Indonesian Hansen Reintegration Federation (Farhan) for the dissemination of the Convention on the Rights of People with Disability (CRPD). The socialization of the rights of persons with disabilities is carried out periodically from city to city throughout Indonesia. The focus of the discussion on this movement is the dissemination and implementation of article 21 on freedom of expression and opinion and the right to access to information.

Then at the international level, Lingkar Sosial Indonesia joined the Global Partnership for Zero Leprosy, a coalition of groups that agreed to end leprosy or hansen. The importance of this coalition is to accelerate research on leprosy, enhance cooperation in national leprosy programs and improve resource advocacy and mobilization.

Currently the Global Partnership for Zero Leprosy consists of several world leprosy organizations including Alliance Against Leprosy, American Leprosy Mission, Angels in the Field, Circular Social Indonesia, Novartis Foundation, International Federation of Anti-Leprosy Associations (ILEP), Sasakawa Memorial Health Foundation and the International Association for Integration, Dignity and Economic Advancement (IDEA), Netherlands Leprosy Relief (NLR) and several others and WHO as observers.

In this global collaboration Lingkar Sosial Indonesia will play many roles in education and public awareness or disability awareness through continuous socialization in various activities also through community media. Lingkar Sosial Indonesia will also collaborate with self-care groups (KPD) in health centers to increase self-awareness of the rights of persons with disabilities, economic cooperation through entrepreneurship and joint campaigns to influence better public policies for persons with disabilities and people affected by leprosy.

 

Aksi Kolaborasi untuk Zero Leprosy

Oleh: Kertaning Tyas, pendiri Lingkar Sosial Indonesia

Zero Leprosy adalah komitmen nol kusta atau tak ada lagi orang yang mengalami kusta, stigma dan diskriminasi. Komitmen ini sangat penting mengingat stigma dan diskriminasi masih melekat kuat pada masyarakat meski angka kusta menurun setiap tahunnya. Upaya nol kusta penting dilakukan bersama oleh semua pihak di dunia. Untuk itu Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sebagai salah satu organisasi yang fokus pada isu kusta dan disabilitas mengambil langkah-langkah kolaboratif.

Di tingkat lokal Lingkar Sosial Indonesia menginisiasi berdirinya Forum Malang Inklusi (FOMI) melalui gerakan Satu Misi menuju Malang Raya ramah difabel. Aksi ini sukses mendorong adanya musyawarah rencana pembangunan tematik disabilitas kota Malang dan mendorong kebijakan-kebijakan publik lainnya. Terkait advokasi kusta, Forum Malang Inklusi yang berdiri sejak 15 September 2016 ini banyak memberikan pengaruh pada masyarakat melalui pendidikan dan penyadaran atau disability awarrenes.

“Lingkar Sosial Indonesia juga membangun kelompok kerja wirausaha difabel sebagai pusat bisnis dan jaringan wirausaha masyarakat disabilitas dan orang yang mengalami kusta. Upaya ini efektif meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan kemandirian ekonomi serta mengurangi stigma dan diskriminasi.”

Di tingkat regional Jawa Timur, Lingkar Sosial Indonesia kembali menginisiasi lahirnya forum lintas organisasi masyarakat. Saat ini telah bergabung beberapa kelompok disabilitas termasuk komunitas kusta. Koalisi ini bernama Forum Jatim Inklusi (FOJI), berdiri pada tanggal 1 Januari 2019 di Malang. Aksi pertama organisasi ini adalah menggelar aksi damai dalam World Leprosy Day di alun-alun Kabupaten Lamongan bersama Pemkab Lamongan dan Dinas Kesehatan. Dalam kesempatan ini semua pihak sepakat untuk komitmen mencapai stop kusta, stop diskriminasi dan stop infeksi. Dalam acara yang dihadiri oleh sekira 300 orang ini juga menghadirkan bupati Lamongan, Fadeli dan jajaran Dinas Kesehatan serta seluruh kepala puskesmas dan petugas kusta di Lamongan.

Sedangkan di tingkat nasional, Lingkar Sosial Indonesia bergabung dengan Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) serta Federasi Reintegrasi Hansen (Farhan) Indonesia untuk kegiatan sosialisasi Convention on the Rights of People with Disability (CRPD). Sosialisasi hak-hak penyandang disabilitas ini dilakukan secara berkala dari kota ke kota di seluruh Indonesia. Fokus pembahasan pada gerakan ini adalah sosialisasi dan implementasi pasal 21 tentang kebebasan berekspresi dan berpendapat serta hak akses atas informasi.

Kemudian di tingkat Internasional, Lingkar Sosial Indonesia bergabung dengan Global Patnership for Zero Leprosy yaitu koalisi kelompok-kelompok yang sepakat mengakhiri kusta atau hansen. Pentingnya koalisi ini adalah untuk mempercepat penelitian tentang kusta, meningkatkan kerjasama dalam program kusta nasional serta meningkatkan advokasi dan mobilisasi sumberdaya.

Saat ini Global Partnership for Zero Leprosy beranggotakan beberapa organisasi kusta dunia diantaranya Alliance Against Leprosy, American Leprosy Mission, Angels in the Field, Lingkar Sosial Indonesia, Novartis Foundation, International Federation of Anti-Leprosy Associations (ILEP), Sasakawa Memorial Health Foundation and the International Association for Integration, Dignity and Economic Advancement (IDEA), Netherlands Leprosy Relief (NLR) dan beberapa lainnya serta WHO sebagai pengamat.

Dalam kerjasama global ini Lingkar Sosial Indonesia akan banyak berperan dalam pendidikan dan penyadaran masyarakat atau disability awareness melalui sosialisasi secara terus-menerus dalam berbagai kegiatan juga melalui media komunitas. Lingkar Sosial Indonesia juga akan bekerjasama dengan kelompok-kelompok perawatan diri (KPD) di puskesmas untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap hak-hak penyandang disabilitas, kerjasama ekonomi melalui kewirausahaan serta kampanye bersama untuk mempengaruhi kebijakan publik yang lebih baik bagi penyandang disabilitas dan orang yang mengalami kusta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat