Ken Kerta, Pendiri Lingkar Sosial Indonesia

Ken Kerta, nama yang sudah dikenal luas dikalangan penggerak inklusi dan disabilitas khususnya di Malang Raya. Seorang pribadi yang aktif dalam menggiatkan organisasi untuk membantu orang-orang yang mengalami hambatan sosial serta keberanianya untuk mengkritisi dan memberi saran terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan disabilitas. Memulai niat mulia di Sumatra Selatan pada tahun 2010 dari meliput desa tertinggal yang tidak memiliki akses kesehatan hingga niat tersebut tiba dan besar di Malang.

Ken Kerta adalah pendiri Komunitas Lingkar Sosial (Linksos). Komunitas yang memiliki tiga fungsi yakni hukum, ekonomi, dan pendidikan ini didirikan pada tahun 2014 di Malang. Komunitas yang tak semata membantu penyandang disabilitas tetapi juga membantu masyarakat marginal yang mengalami disfungsi sosial pada kehidupannya.

Ken menuturkan, suatu permasalahan tepat ada di depan mata dan tidak terselesaikan, dan itu di alami oleh orang-orang yang mengalami hambatan sosial. Hal tersebut menjadi beban moral bagi dia. Dari situlah terpanggil jiwanya untuk membantu orang-orang yang mengalami disfungsi sosial dan memotivasinya untuk mendirikan Komunitas Lingkar Sosial.

“Ken Kerta itu adalah nama populer saya, nama Ken saya ambil dari semangat Kerajaan Singhasari, jadi ada Ken Arok, Ken Dedes, Ken Umang dan Ken lainnya,” ungkap Ken Kerta.

Pemilik nama asli Kertaning Tyas ini bukanlah seorang penyandang disabilitas, sehingga membuat heran banyak orang dan cukup menjadi perhatian ketika ia disebut sebagai pendiri Forum Malang Inklusi (FOMI) pada tahun 2016. Hal tersebut menimbulkan kecurigaan tersendiri di kalangan disabilitas. Banyak penyandang disabilitas yang menyukai kehadiran Ken Kerta di tengah-tengah kalangan difabel, namun tak sedikit pula yang tidak menyukainya. Sehingga pada awal usahanya untuk mendirikan Linksos dan FOMI tidak sedikit isu-isu negatif yang muncul dan mengarah kepada Ken.

“Saya lebih banyak diam dan tidak merespon, tapi saya terus bekerja dan membuktikannya langsung di lapangan yang hal ini akhirnya menimbulkan rasa percaya dari kawan-kawan yang lain,” kata pria kelahiran Madiun itu.

Menurut Ken, ketika banyak organisasi yang hanya mengandalkan meminta sumbangan ke pabrik-pabrik atau perusahaan dengan dalih perusahaan-perusahaan berhak memberikan bantuan sosial kepada penyandang disabilitas yang justru hal tersebut malah merendahkan harkat dan martabat difabel itu sendiri, sekalipun Undang-Undang mengamanahkan demikian. Sedangkan kami mengumpulkan dana dengan bagaimana kita melakukan usaha yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah teman-teman difabel menyalurkan bakatnya di Car Free Day (CFD) sambil menjual tiket donasi yang dikumpulkan salah satunya untuk mengadakan kegiatan Hari Disabilitas Internasional (HDI).

“Dari kegiatan yang kami lakukan di CFD itulah datang tawaran-tawaran untuk membuat proposal. Jadi ketika orang lain meminta, kita dipanggil untuk membuat proposal dari situ baru kita buatkan proposal dan itu yang kita terapkan. Dari situlah kita membangun semangat dan percaya diri anggota juga meningkatkan keyakinan bahwa kita ini sebenarnya bukan soal disabilitas atau nondisabilitas melainkan bagaimana kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia seutuhnya,” ujar Ken yang juga berprofesi sebagai jurnalis tersebut.

Kepedulian yang sangat besar pasti berasal dari dalam hati setiap manusia. Tidak akan pernah manusia yang memulai sebuah gerakan memanfaatkan apa-apa yang sedang dikerjakan khususnya dalam bidang kemanusiaan dan sosial untuk meraih dan mencapai ambisi atau keuntungan untuk diri sendiri.

“SESUATU YANG BERASAL DARI HATI AKAN KEMBALI KE HATI, SESUATU YANG BERASAL DARI MULUT AKAN BERAKHIR DI LUBANG TOILET, JADI ARTINYA SESUATU HAL AKAN KEKAL KETIKA SEMUANYA DARI HATI,” UJAR PRIA BERUSIA 41 TAHUN ITU.

Ken berharap, masyarakat jangan sungkan bergabung dengan kami karena sebenarnya disabilitas itu bukan kutukan, gagal produk, atau salah mencipta melainkan karena lingkungan yang tidak mendukung dan itu sudah diatur Peraturan Menteri PU No.30 Tahun 2006 yang mengatur aksesibilitas pembangunan. Cuma tidak dilaksanakan itu menyebabkan teman-teman difabel mengalami banyak hambatan sehingga disebutlah penyandang disabilitas dimana mereka tidak bisa berpartisipasi secara penuh.

Penulis: Moch. Chusnul Chuluq
Editor:Achmad Sulchan

http://lakonurip.com/index.php/2018/11/17/ken-kerta-pendiri-lingkar-sosial-sebuah-gerakan-pemersatu-disabilitas/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat