Social Enterprise Pokja Wirausaha Difabel

Sebuah rumah sederhana di Perum Bedali Indah, kecamatan Lawang kabupaten Malang, hari itu nampak beberapa orang penyandang disabilitas sedang berdiskusi tentang teknis menyambung perca. Sembari tangan mereka bekerja menangani perca, sembari sesekali mereka bersendau gurau. Tak ada situasi formal.

Dua bulan kemudian, situasi yang sama nampak terjadi di kediaman ibu Rumbawani, perempuan tuli anggota Kelompok Kerja Difabel Lingkar Sosial yang tinggal di Sawojajar. Ya, para pengrajin perca ini adalah sekelompok difabel wirausahawan yang tergabung dalam komunitas Lingkar Sosial.

Tempat pertemuan kondisional, bisa berpindah dari rumah anggota satu ke rumah anggota lainnya. Niatnya pelatihan sekaligus silaturahni.

Berikut beberapa hal yang penting diketahui tentang kelompok kerja difabel Lingkar Sosial:
1. Misi dan Visi kelompok kerja
2. Legalitas usaha
3. Lokasi pelatihan dan usaha
4. Model pelatihan dan sistem usaha
5. Permodalan
6. Keanggotaan
7. Produk dan pemasaran

Misi dan visi kelompok kerja
Kelompok kerja difabel dibentuk untuk membuka peluang kerja baru bagi penyandang disabilitas.

Pengangguran dan pekerjaan yang layak masih menjadi masalah krusial bagi penyandang disabilitas. Meski undang-undang telah mengamanahkan kuota 1 persen difabel bekerja pada sektor swasta dan kuota 2 persen pada sektor BUMN, namun rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penyandang disabilitas serta minimnya keahlian, menyebabkan kesempatan untuk mengakses hal tersebut terbatas.

Menjawab persoalan diatas, kelompok kerja difabel dibangun guna membuka membuka kesempatan kerja baru bagi kelompok berkebutuhan khusus tersebut. Misi kelompok kerja ini adalah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui optimalisasi SDM dan SDA yang tersedia.

Legalitas usaha. Kelompok kerja didalam koordonasi Lingkar Sosial Indonesia, berbadan hukum yayasan atas dasar SK MENHUKAM No. AHU-0016876.AH.01.04.Tahun 2017

Lokasi pelatihan. Terdapat beberapa titik pelatihan yaitu: Lawang, Singosari, Kepanjen, Sukun dan Kedung Kandang.

Lokasi usaha di outlet Linksos, pertigaan Jl Raya Krebet Senggrong, Bululawang, kab. Malang. Di tempat ini berbagai hasil kerajinan difabel dari berbagai organisasi dipajang.

Model pelatihan dan sistem usaha. Data Lingkar Sosial sekira 95 persen anggotanya adalah alumni BLK, lulusan pelatihan dinsos dan jebolan panti rehabilitasi. Dengan demikian pada prinsipnya mereka sudah terlatih dan berketerampilan.

Pemerintah sudah cukup baik mengadakan pelatihan-pelatihan bagi difabel, namun minimnya permodalan yang layak dan pendampingan berkelanjutan menyebabkan manfaat dari pelatihan tak tersalurkan. Hal ini menjadi salah satu sebab adanya pengangguran pada masyarakat disabillitas.

Difabel dari berbagai alumni pelatihan dinilai Lingkar Sosial sebagai amunisi perubahan. Mereka yang kemudian bergabung dalam kelompok kerja difabel akhirnya membangun jaringan pelatihan dan wirausaha.

Model pelatihan, mereka saling sharing pengetahuan dan keterampilan. Sistem usaha mereka tergabung dalam satu tim dengan tugas masing-masing sesuai kemampuan meliputi produksi, promosi, dan penjualan.

Permodalan, lebih banyak bersifat swadaya masyarakat berupa dana pribadi anggota, dana patungan antar anggota, serta dukungan masyarakat.

Dukungan masyarakat dalam bentuk peralatan kerja dan support modal untuk produksi. Lingkar Sosial membuka ruang kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk bekerjasama dibidang usaha ini.

Keanggotaan. Keanggotaan kelompok kerja difabel Lingkar Sosial bersifat terbuka, dari bebagai ragam disabilitas. Juga inklusif meliputi difabel dan nondifabel. Dalam kegiatan ini nondifabel berfungsi sebagai pendukung kegiatan, misal tenaga pelatih pada bidang yang belum dikuasai oleh difabel anggota. Ragam keanggotaan kelompok kerja ini terbanyak dari tuli dan daksa. Terdapat pula anggota dari orang tua ABK, difabel netra serta keluarga dari orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Produk kelompok kerja, saat ini adalah kerajinan perca dalam bentuk tas dan dompet. Untuk potensi anggota lainnya seperti protese/kaki palsu, bengkel, musik, ukiran, sablon dan lainnya belum terakomodasi karena masalah modal.

Sedangkan untuk pemasaran, anggota kelompok kerja masih mengandalkan jaringan pertemanan, baik dalam jaringan personal maupun jaringan komunitas. Selain itu juga melalui pemasaran online di media sosial.

Untuk produk kerajinan tangan kendalanya adalah permodalan yang kurang memadai, otomatis menghambat produksi dan laju penjualan.

Meski demikian, bagi kelompok independen yang belum pernah menikmati kucuran dana dari pemerintah ini, memiliki aset sebuah outlet/toko dan beberapa unit mesin jahit portabel adalah catatan prestasi tersendiri bahwa kelompok kerja difabel Lingkar Sosial memiliki dukungan dan kepercayaan yang baik dari masyarakat.

Lingkar Sosial terbuka bagi semua pihak untuk mengelola dan mengembangkan kelompok kerja difabel. (admin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat