Pers Rilis: Pengembangan Potensi Pemuda Difabel Melalui Kelompok Kerja

Lingkar Sosial Indonesia akan mengadakan sarasehan Pengembangan Potensi Pemuda Difabel melalui Kelompok Kerja pada tanggal 21 Agustus 2019. Sarasehan yang bertemakan kepemudaan ini bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 74, menghadirkan narasumber dari Pendamping Kementrian Sosial, Koordinator Forum Malang Inklusi dan Lingkar Sosial Indonesia sendiri. Sarasehan dilakukan di sekretariat Pokja Wirausaha Difabel Lingkar Sosial kecamatan Singosari, Jl Kertaradjasa, No 108 RT 06 RW 03 kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.

Pokja Wirausaha Difabel Lingkar Sosial kecamatan Singosari atau disebut Pokja Singosari merupakan salah satu dari 16 pokja wirausaha difabel yang tersebar di Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Meski Pokja Singosari ini baru terbentuk namun model pengembangannya menarik melalui pembentukan koordinator-koordinator di setiap desa/ kelurahan.

Latar Belakang: Minimnya peran aktif Pemuda Difabel usia 30 tahun dalam Partisipasi Sosial

Khususnya di Kabupaten Malang, para pemuda difabel dibawah usia 30 tahun masih banyak mengalami ketertinggalan, hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator diantaranya di bidang ketenagakerjaan, seni budaya dan olahraga:

  1. Pemuda difabel dengan kerja tak layak serta sebagian lainnya mengalami pengangguran. Difabel kerja tak layak misalnya ketika seorang sarjana agama harus menjadi penjual koran, atau seorang lulusan SMK jurusan Komputer Jaringan harus memilih profesi berjualan telor asin.
  2. Minimnya peran aktif pemuda difabel dalam kegiatan organisasi penyandang disabilitas.
  3. Belum adanya ruang apresiasi seni budaya dan olahraga yang layak.

Indikator pertama: pemuda difabel kerja tak layak. Mereka mengakses kesempatan kerja ditengah slogan inklusif yang disuarakan perusahaan-perusahaan. Beberapa syarat dalam rekrutmen karyawan perusahaan dinilai menghambat peluang kerja difabel, seperti sehat lahir dan batin, berpenampilan menarik dan penyandang disabilitas dengan mobiltas mandiri tanpa alat bantu. Budaya kecacatan yang memandang penyandang disabilitas dari sisi medik saja (social medic) yang masih kental dalam masyarakat menimbulkan persepsi bahwa diafbel tidak sehat lahir dan batin, sehingga dianggap sebagai beban tim, berpenampilan tidak menarik, serta menambah beban operasional karena perusahaan harus menyediakan akomodasi yang layak.

UU RI nomer 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sudah mengamanahkan kuota 2 persen difabel bekerja di BUMN dan 1 persen difabel bekerja di sektor swasta. Namun hal ini masih merupakan jalan panjang berkaitan dengan persepsi dan paradigma masyarakat yang harus diubah melalui pendidikan dan penyadaran masyarakat secara  berkelanjutan.

Indikator kedua: minimnya peran aktif pemuda difabel dalam kegiatan organisasi penyandang disabilitas. Data yang dikumpulkan Lingkar Sosial Indonesia yang tersebar di 25 organisasi difabel di Malang Raya atau sekira 625 orang, menunjukkan partisipasi pemuda difabel masih minim. Dikategorikan berdasarkan usia difabel yang yang berorganisasi 6,1 persen dari usia 16-30 tahun, selebihnya usia 30 tahun ke atas. Penyebab minimnya partisipasi disebabkan beberapa faktor yaitu:

  1. Sibuk dengan kegiatan sekolah
  2. Sibuk mencari pekerjaan
  3. Belum menemukan organisasi difabel yang sesuai dengan bakat minatnya, khususnya di bidang seni budaya dan olahraga
  4. Minder/ tidak percaya diri
  5. Minimnya kesadaran dan dukungan orangtua, misalnya malu jika anaknya bergaul dan kekhawatiran yang berlebihan atas keselamatan anaknya diluar rumah.

Indikator ketiga: belum adanya ruang apresiasi seni budaya dan olahraga yang layak. Penyandang disabilitas belum banyak tergabung dalam even-even seni dan budaya, kecuali mereka yang mengalami disabilitas akibat sakit atau kecelakaan (sebelumnya non disabilitas). Terdapat beberapa kelompok musik di Malang yang bisa dikatakan hanya eksis di panggung ketika even-even disabilitas seperti Hari Disabilitas Internasional dan Hari Kesetiakawanan Sosial.

Sedangkan pada bidang olahraga di kabupaten Malang khususnya belum terdapat semacam komite olahraga atau National Paralympic Committe (NPC). Even-even olahraga yang selama ini dilakukan oleh kelompok  tuli diadakan secara swadaya berkoordinasi dengan sesama organisasi difabel dan lintas komunitas sosial yang mendukung.

Minimnya peran aktif pemuda difabel adalah ancaman keberlangsungan Advokasi hak-hak penyandang disabilitas

UU RI nomer 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanahkan adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, namun implementasinya masih memerlukan advokasi berkelanjutan dari semua pihak utamanya dari kelompok penyandang disabilitas sendiri. Hal ini seperti dilakukan oleh Forum Malang Inklusi.

Forum Malang Inklusi merupakan forum lintas organisasi penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan yang sepakat mendorong terciptanya Malang Raya yang inklusif. FOMI berdiri pada 15 September 2016 di kecamatan Lawang, kabupaten Malang atas inisiasi Lingkar Sosial Indonesia melalui Gerakan Satu Misi Menuju Malang Raya Ramah Difabel.

Pada awal berdirinya FOMI dideklarasikan oleh 10 organisasi, saat ini kelompok inklusif terbesar di Malang Raya ini beranggotakan 25 organisasi, diantaranya Lingkar Sosial Indonesia, LBH Disabilitas, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Shining Tuli kota Batu, OPD Malang Raya, Malang Corruption Watch (MCW), Lawang Rescue dan lainnya.

Masing-masing organisasi menempatkan perwakilannya dalam Forum Malang Inklusi. Terkait peran aktif pemuda, dari kelompok difabel perwakilan yang duduk dalam kepengurusan FOMI semua berusia diatas 30 tahun.

Kondisi ini menyebabkan kepentingan dan aspirasi anak muda difabel tidak terakomodasi dengan baik. Forum Malang Inklusi lebih banyak menyoroti persoalan umum seperti aksesibilitas, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan penyadaran masyarakat. Sedangkan hal yang tak kalah penting berkaitan dengan pengembangan bakat dan minat pemuda di bidang seni budaya dan olahraga belum tersentuh. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor kurang berminatnya pemuda difabel usia  16- 30 tahun bergabung dalam organisasi penyandang disabilitas.

Lebih lanjut hal ini juga merupakan ancaman bagi regenerasi organisasi-organisasi penyandang disabilitas. Sedangkan keberadaan organisasi penyandang difabel diperlukan untuk mendorong partisipasi aktif warga negara dalam pembanagunan  dan advokasi hak-hak penyandang disabilitas.

Ouput yang diharapkan

Sarasehan berjudul Pengembangan Potensi Pemuda Difabel melalui Kelompok Kerja, ini diharapakan mampu menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut dari perwakilan komunitas difabel yang hadir, seperti:

  1. Menginisiasi adanya program-program pemgembangan bakat minat pemuda difabel oleh organisasi-organisasi penyandang disabilitas.
  2. Mendorong adanya kerjasama Pemerintah dan swasta dan stake holder terkait untuk mendukung kegiatan seni budaya dan olahraga bagi penyandang disabilitas.
  3. Mendorong Pemkab Malang, Pemkot Malang dan Pemkot Batu melalui dinas terkait untuk pemenuhan hak ketenagakerjaan
  4. Mendorong terbentuknya komite olahraga difabel atau National Paralympic Committe (NPC) di kabupaten Malang dan kota Batu.
  5. Mendorong terwujudnya kerjasama dengan BLK untuk pelatihan kerja secara inklusif bagi pemuda-pemuda disabilitas.
  6. Mendorong terwujudnya pemgembangan pokja di 33 kecamatan di kabupaten Malang, 5 pokja di kota Malang, serta 3 pokja di kota Batu sebagai alat rekrutmen pemuda difabel.

 

Kerjasama Pelaksanaan Sarasehan

Sarasehan ini terlaksana atas swadaya masyarakat yang tergabung dalam kelompok-kelompok kerja (Pokja) Wirausaha Difabel Lingkar Sosial Indonesia. Juga atas dukungan Forum Malang Inklusi dan media-media partner.

Pers Rilis ini dibuat pada tanggal 18 Agustus 2019 di Sekretariat Lingkar Sosial Indonesia, JL. Pisang Kipas C5 No 22 desa Bedali Kec. Lawang Kab. Malang. Dipublikasi melalui website www.lingkarsosial.org dan jaringan-jaringan media. Informasi lebih lanjut hubungi Ketua Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas di 085764639993.

 

 

WhatsApp chat