Saatnya OYPMK Inklusif dan Melek Media

Lingkarsosial.org, Malang- Guna membuka wawasan tentang disabilitas dan meningkatkan pengetahuan dasar serta pemahaman tentang Convention on the Right of Person with Disability (CRPD), Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) mengadakan pelatihan bagi komunitas kusta dan organisasi penyandang disabilitas lainnya, 27-29 April di Hotel Pelangi, Kota Malang, Jawa Timur.

“Khususnya terkait CPRD atau konvensi mengenai hak penyandang disabilitas, khususnya pasal 21 tentang kebebasan berekspresi dan berpendapat serta akses informasi,” jelas Nuah Perdamenta Tarigan saat memberikan arahan kepada 16 peserta dari lintas organisasi di Jawa Timur. Serta tantangan yang dihadapi serta paradigma yang berkembang selama ini dalam pemberdayaan, imbuh Nuah.

“Harapannya pelatihan ini akan  membawa perubahan cara berfikir yang jelas dan terbuka, independen,” kata Nuah lebih lanjut. Dengan membawa sikap yang proaktif dan bukan hanya reaktif saja melihat keadaan, tandasnya. Juga berkomunikasi dengan sesama setiap saat untuk kemudian dikembangkan menjadi active channel serta organisasi yang mandiri.

Terkait akses terhadap informasi, salah satu peserta pelatihan dari Lingkar Sosial Indonesia, Kertaning Tyas mengungkap lemahnya jaringan komunitas orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) sehingga menyebabkan keterbelakangan di berbagai bidang.

“Riset selama mendampingi komunitas kusta di Mojokerto tahun 2014 dan di Malang tahun 2015, menunjukkan jaringan komunitas OYPMK di daerah bersifat tertutup sehingga informasi yang mereka terima sangat minim,” ungkap Ken Kerta panggilan akrabnya.

Lanjutnya, komunitas kusta bersifat eksklusif, mereka hanya berjejaring dengan komunitas sesama OYPMK. Namun berbeda di tingkat pusat organisasi kusta berjejaring internasional.

Temuan lainnya, kata Ken Kerta isu kusta jarang diliput media. Kecuali menjelang hari Kusta Sedunia, itupun tak jauh dari persoalan angka kasus baru dan gambaran umum tentang stigma dan diskriminasi.

“Rencana tindak lanjut dari Lingkar Sosial Indonesia dari pertemuan ini adalah sharing lintas organisasi kusta di daerah- daerah,” tutur Ken Kerta. Materinya teknik membangun jaringan inklusi dan jurnalisme warga, rincinya. Ketika isu kusta diangap kurang seksi sehingga tidak diliput, saatnya komunitas kusta melek jurnalistik atau paham media agar efektif  menyuarakan aspirasinya sendiri. (admin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat