Pers Rilis: Semiloka DID di Pakisaji untuk Menginisiasi Adanya Desa-desa Inklusi di Kabupaten Malang

Lingkar Sosial Indonesia akan mengadakan beberapa semiloka Pembangunan Inklusif Disabilitas atau Disabillity Inclusive Development (DID) di Kabupaten Malang. Semiloka ini bertujuan untuk membuka kesadaran semua pihak bahwa hakikat pembangunan tidak boleh meninggalkan siapapun dan harus melibatkan partisipasi semua orang termasuk penyandang disabilitas. Selain itu semiloka tersebut juga bertujuan untuk menginisiasi terbentuknya desa- desa inklusi.

Semiloka pertama akan dilakukan di desa Pakisaji, kecamatan Pakisaji, kabupaten Malang, pada tanggal 15 Agustus 2019. Dipilihnya desa tersebut dalam rangka mengembangkan potensi desa yang telah ada, diantaranya terdapat organisasi penyandang disabilitas yaitu Forum Malang Inklusi, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Pokja Wirausaha Difabel Lingkar Sosial, Komunitas Kartika Mutiara dan Paguyuban Ibu-ibu dari anak Istimewa. Diantaranya Komunitas Kartika Mutiara merupakan kerja kolaborasi masyarakat dengan Koramil setempat.

Semiloka ini menghadirkan pemateri dari dinas terkait yaitu Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Malang dan Bappeda Kabupaten Malang. Juga menghadirkan dinas dan istansi terkait lainnya serta perwakilan masyarakat lainnya, diantara Camat, Dinas Sosial, Polsek, Koramil, takmir masjid, PKK, Karang Taruna, organisasi difabel setempat, Puskesmas dan bidan desa, kader kesehatan, guru, kelompok wirausaha dan sebagainya.

Modal Dasar terciptanya Desa- desa Inklusi di Kabupaten Malang

Potensi terbangunnya desa-desa inklusi di Kabupaten Malang sangat mendukung, bahkan dalam lingkup Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu). Hal ini dikaitkan dengan progress kegiatan Lingkar Sosial Indonesia di ketiga kota wisata tersebut.

Lingkar Sosial Indonesia berdiri pada tahun 2014 di Kabupaten Malang. Dimulai dari pilot project swadaya kelompok kerja (Pokja) wirausaha difabel tahun 2015 di Kecamatan Lawang, saat ini telah berkembang menjadi 16 pokja yang tersebar di Malang Raya, yaitu 12 pokja di kabupaten Malang, 3 pokja di kota Malang dan 1 pokja di kota Batu. Para pokja tersebut saat ini tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Difabel Indonesia (APDI) yang dibentuk pada Mei 2019 lalu.

Progress lainnya, pada tahun 2016 Lingkar Sosial Indonesia menginisiasi terbentuknya Forum Malang Inklusi (FOMI) melalui gerakan sosial Menuju Malang Raya Ramah Difabel. FOMI sebagai forum lintas organisasi yang sepakat mendorong terciptanya Malang Raya ramah disabilitas, saat ini beranggotakan 25 organisasi difabel, sosial dan kemanusiaan.

Berbeda dengan Pokja yang fokus pada pengembangan ekonomi difabel, FOMI fokus pada advokasi kebijakan melalui berbagai pertemuan dengan pemerintah untuk memastikan implementasi kebijakan yang telah ada maupun mempengaruhi adanya kebijakan baru terkait upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

Pokja-pokja wirausaha, APDI dan FOMI merupakan selain sebagai basis massa juga wujud partisipasi dan peran aktif masyarakat, yang hal ini merupakan potensi pokok atau modal dasar mencapai cita-cita terwujudnya desa-desa inklusi di kabupaten Malang khususnya dan Malang Raya umumnya.

Peran aktif dan Partisipasi semua pihak

Landasan cita-cita adanya desa inklusi tak lepas dari prinsip dasar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang lebih dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah no one left behind atau tidak boleh ada yang ditinggalkan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, SDGs sebagai pengembangan MDGs atau Millenium Development Goals akan melibatkan Pemerintah, pemerintahan daerah, parlemen, filantrofi, bisnis, organisasi kemasyarakatan atau civil society organization, media, akademisi dan para pakar.

Rencana Tindak Lanjut

Semiloka Pembangunan Inklusi Disabilitas ini terbagi dalam dua sesi, yaitu:

  1. Sesi seminar, diisi oleh para pemateri dari Dinas PMD dan Bappeda yang pada intinya memaparkan program-program pemberdayaan yang bisa diakses masyarakat desa tak terkecuali penyandang disabilitas. Juga model pembangunan yang harus melibatkan peran aktif dan partisipasi semua pihak termasuk penyandang disabilitas sebagai salah satu goals dari SDGs.
  2. Sesi lokakarya, para peserta melakukan diskusi kelompok untuk bersama nerumuskan indikator desa inklusi berdasarkan potensi dan kearifan lokal. Indikator tersebut untuk kemudian menjadi rekomendasi pemerintah desa Pakisaji dan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang untuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Kerjasama

Seminar Pembangunan Inklusif Disabilitas ini terselenggara atas kerjasama Lingkar Sosial Indonesia dengan until No Leprosy Remains (NLR) Indonesia, sebuah organisasi nasional anggota NLR Alliance. Program-program utama NLR Indonesia diantaranya adalah pengendalian kusta dan pengembangan inklusif untuk para penyandang disabilitas.

Pers Rilis ini dibuat pada tanggal 13 Agustus 2019, pukul 04.55 di Malang oleh Yayasan Lingkar Sosial Indonesia, serta disiarkan melalui website www.lingkarsosial.org

WhatsApp chat